Soal BBM Bermutu, YLKI Sebut Pemerintah Tidak Konsisten

Kamis, 16 November 2017 | 13:25
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
DISKUSI BBM: Tri Yuswidjajanto dalam diskusi E2S di Jakarta, Kamis (16/11/2017).

INDOPOS.CO.ID - Katua Harian Yayasan Lembaga Komsumen Indonesia Tulus Abadi menyebut pemerintah tidak konsisten dalam penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk masyarakat. Itu terlihat diresmikannya SPBU swasta yang menjual BBM beroktan rendah, RON 89.

Padahal, Pertamina sendiri pelan-pelan menghilangkan BBM premium yang kadar oktannya rendah karena masalah lingkungan. Permen LHK bahkan sudah mengeluarkan aturan penggunaan BBM haruslah type Euro 4 mulai tahun depan. 

“Heran juga mengapa Manteri Jonan sendiri yang turun langsung meresmikan SPBU swasta itu,” kata Tulus Abadi saat menjadi pembicara dalam diskusi “Menjawab Tantangan Memproduksi BBM Ramah Lingkungan yang digelar Energy and Mining Editor Society (E2S) di Jakarta, Kamis siang (16/11/2017). 

Tulus mengakui masyarakat Indonesia kian gandrung dengan kendaraan pribadi karena belum optimalnya pelayanan transportasi umum. 

“Masifnya penggunaan kendaraan pribadi minimal berdampak pada keselamatan di jalan raya, berdampak pada pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat,” katanya.

Kendaraan pribadi juga sangat rakus terhadap konsumsi BBM. Masalah kian serius saat kualitas BBM untuk kendaraan bermotor masih rendah. 

“Makin tinggi kandungan RON suatu bahan bakar makin rendah emisi gas buangnya, dan makin rendah kadar RON nya makin buruk  dampaknya terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat,” ujarnya. 

Dikatakan, saat ini dunia sudah kampanye menggunakan bahan bakar standard Euro 4. Di Indonesia masih terkungkung dengan penggunaan bahan bakar RON 88 (premium) yang masih di bawah standard Euro 2. 

“Bandingkan dengan Malaysia  yang sudah menggunakan RON 98 atau setara Pertamax Turbo Pertamina,” katanya.

Karena itu, industri otomotif  Indonesia sejatinya menjadi garda terdepan memproduksi kendaraan dengan rekayasa teknologi mesin yang kompatibel dengan bahan bakar yang ramah lingkungan sesuai regulasi pemerintah. (rir)

 

Editor : Syahrir Lantoni
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%