Pertamina Bangga Berperan Penting dalam Pertumbuhan GDP

Rabu, 11 Januari 2017 | 19:45
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, PT Pertamina sebagai  BUMN energi telah memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya peningkatan Gross Domestic Product (GDP) Indonesia. Dikatakan, GDP  yang pada 2016 diprognosakan mencapai  USD 940,95 miliar. 

Dwi Soetjipto mengatakan hal tersebut saat  menyampaikan sambutan kunci pada pembukaan Pelatihan bertema Advancing Accountable Resources Governance in Asia Pacific yang diselenggarakan oleh FISIPOL Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Rabu (11/01). 

Dalam paparannya yang bertajuk Peran dan Kontribusi Pertamina Bagi Indonesia, Dwi Soetjipto mengatakan GDP suatu negara dipengaruhi oleh empat komponen, yaitu consumer spending konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, investasi dan selisih antara ekspor dikurangi impor. 

"Dalam konteks keempat komponen tersebut, Pertamina berperan cukup dalam sehingga memberikan pengaruh terhadap GDP Indonesia," katanya.

Dia menjabarkan dalam hal konsumsi masyarakat, harga BBM yang kompetitif ikut merangsang kegiatan ekonomi masyarakat.  Ditambah lagi dengan penerapan BBM Satu Harga di seluruh Nusantara yang disamping memberikan keadilan bagi seluruh masyarakat, juga berperan untuk menstimulasi kegiatan perekonomian masyarakat.

“Dengan BBM Satu Harga, masyarakat merasakan betul dampak positifnya. Dengan harga BBM yang lebih terjangkau, masyarakat menjadi lebih leluasa dalam melakukan aktivitas ekonomi, lebih produktif dan distribusi barang menjadi lebih efisien sehingga memengaruhi harga-harga barang lainnya,” terang Dwi. 

Dari aspek belanja pemerintah, Pertamina telah berperan untuk mendukung anggaran negara melalui kontribusi dividen dan pajak. Hingga November lalu misalnya, Pertamina telah menyetor pajak tidak kurang dari Rp58 triliun. 

Selanjutnya komponen investasi, di mana Pertamina telah memiliki rencana investasi lebih dari USD 100 miliar hingga tahun 2025. Investasi tersebut dialokasikan untuk berbagai lini usahanya, termasuk pembangunan infrastruktur energi yang tidak hanya berperan penting untuk ketahanan energi nasional tetapi juga dalam penyerapan tenaga kerja. 

Komponen terakhir mengenai selisih ekspor dan impor yang ditunjukkan dengan penurunan volume impor sejumlah produk bahan bakar. “Yang mengalami penurunan impor signifikan di antaranya Solar,” ujar Dwi lagi.

Dengan proyek Refinery Development Master Plan dan Grass Root Refinery, menurut Dwi, diharapkan juga dapat mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional dan membebaskan Indonesia dari ketergantungan impor produk BBM pada 2023.

Acara pelatihan itu hadir Deputi I Kepala Staf Kepresidenan Darmawan Prasodjo, Koordinator Tim Sumber Daya Alam Direktorat Litbang KPK Dian Patria, Guru Besar Fakultas ISIPOL UGM Prof. Purwo Santoso, beserta para pakar, praktisi, akademisi, dan peneliti di sektor industri ekstraktif di Asia Pasifik.

Pelatihan  dimaksudkan untuk menguatkan kapasitas pemangku kepentingan untuk akuntabilitas tata kelola industri ekstraktif dan membangun jejaring multi pihak untuk meningkatkan kualitas tata kelola industri ekstraktif di Asia Pasifik. 

Pelatihan yang telah memasuki tahun keempat tersebut diikuti oleh 26 peserta dari 10 negara, meliputi Indonesia, Myanmar, Vietnam, Filipina, India, Timor Leste, Mexico, Mongolia, Afghanistan, dan Australia. (jpg)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%