Banderol BBM Sesuai Mekanisme Pasar

Senin, 09 Januari 2017 | 19:57
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Reaksi negatif masyarakat di media sosial terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi awal tahun ini menimbulkan pertanyaan. Apalagi, kenaikan harga itu bukan solar dan premium. Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Turbo merupakan BBM umum bukan BBM subsidi atau BBM penugasan.

”Pertamax series itu sama dengan BBM di SPBU Shell, Total, dan AKR. Harga fluktuatif, berubah tiap 2 minggu mengikuti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD),” tutur Wakil Direktur Utama PT Pertamina Ahmad Bambang.

Menurut Bambang perubahan harga BBM umum hal lumrah. Harga BBM SPBU Shell, Total, dan AKR juga berubah-ubah. Mekanisme penetapan harga Pertamax series berbeda dengan solar dan premium. Itu diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 (Perpres 191/2014). ”Apakah harga BBM Shell, Total, dan AKR juga ditetapkan menteri?,” tanya Bambang.

Dalam pasal 15 ayat 2 Perpres 191/2014 disebutkan, untuk Harga Indeks Pasar (HIP) BBM umum ditetapkan Badan Usaha dan dilaporkan pada Menteri ESDM. Artinya, Pertamina sebagai badan usaha cukup melaporkan harga Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Turbo pada Menteri ESDM. ”Namun Pertamina tidak bisa mengambil untung setinggi langit karena Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2014 membatasi margin untuk BBM umum sebesar 5-10 persen,” ulasnya.

Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria menilai, kenaikan harga BBM non subsidi macam Pertamax, Turbo, Pertalite, Dex dan Dexlite dagangan Pertamina atau badan usaha lain seperti Shell, Total dan AKR menyusul harga minyak dunia menanjak. ”Harga BBM mengikuti harga pasar. Di mana, saat ini naik USD 52-55 per barel,” tegas Sofyano.

Lonjakan harga jual BBM non subsidi terjadi di seluruh dunia. Kecuali pada negara-negara masih mensubsidi BBM. Di samping akibat lonjakan harga minyak dunia, harga BBM non subsidi juga terpengaruh kurs US Dolar.

Kenaikan mean of platts Singapore (MOPS) atau harga acuan rata-rata minyak selama 2 minggu dari 15-30 Desember rata-rata sebesar 6,5 persen. Kalau mengacu pada MOPS itu, maka seharusnya kenaikan harga minimal Rp 500 per liter. ”Tapi ternyata Pertamina hanya menaikkan Rp 300 per liter atau sebesar 4 persen,” tegasya.

Sofyano mengaku heran kenaikan harga BBM non subsidi dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menaikkan harga bahan bakan pokok. Karena harga Jual BBM non subsidi solar tidak naik, maka kenaikan harga BBM Non subsidi seharusnya tidak berpengaruh terhadap harga bahan-bahan pokok.

Berdasar data dari www.globalpetrolprices.com, harga bensin RON 92 di Malaysia dan Myanmar lebih murah dari Indonesia. Tapi, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Laos harga bensin RON 92 dibanderol lebih dari Rp 8.050 per liter. (wsa)

HARGA BENSIN RON 92 DI ASIA TENGGARA (PER 2 JANUARI 2017)

Indonesia USD 0,60 per liter (Rp 8.050 per  liter)

Malaysia USD 0,47 per liter (Rp 6.337 per liter)

Thailand USD 0,97 per liter (Rp 13.080 per liter)

Singapura USD 1,37 per liter (Rp 18.474 per liter)

Filipina USD 0,88 per liter (Rp 11.866 per liter)

Myanmar USD 0,57 per liter (Rp 7.686 per liter)

Vietnam USD 0,82 per liter (Rp 11.057 per liter)

Kamboja USD 0,84 per liter (Rp 11.327 per liter)

Laos USD 1,09 per liter (Rp 14.698 per liter).

Sumber: www.globalpetrolprices.com:

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%