Program Listrik 35 Ribu Mw Jalan Terus

Jumat, 06 Januari 2017 | 09:06
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID– Target pembangunan infrastruktur listrik tidak akan diubah. Tetap 35 ribu megawatt (mw). Hal itu diputuskan dalam sidang paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) di kantor presiden kemarin (5/1). Agenda pemenuhan listrik itu masuk rencana umum energi nasional (RUEN) yang bakal dibuatkan peraturan presiden (perpres).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia harus benar-benar siap untuk program listrik 35 ribu megawatt (mw). Angka tersebut bukan sekadar target. Sudah ada hitung-hitungan bahwa itu memang jumlah pasokan yang dibutuhkan Indonesia pada 2019. Menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi yang diprediksi mencapai 7 persen.

Jokowi mengakui, ada perbedaan antara realisasi pertumbuhan ekonomi dan perencanaan yang ada sehingga diperlukan kalkulasi ulang. Nanti, bila memang produksi berlebih, akan diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu tinggi. ”Karena ini akan membuat pemborosan di PLN,” ujarnya.

Konsumsi listrik per kapita Indonesia masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Pada 2015, konsumsi per kapita Indonesia hanya 917 kWh. Lebih rendah daripada Vietnam (1.795 kWh) dan Singapura (9.146 kWh). ”Kalau kita ingin tumbuh lebih cepat lagi, membangun lagi di seluruh pelosok, maka kebutuhan konsumsi listrik semakin meningkat,” kata Jokowi.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menuturkan, program listrik tetap diputuskan dengan target 35 ribu mw. Merealisasikannya bukan perkara mudah. ”Dalam perhitungan PLN dan menteri ESDM, kurang lebih bisa dicapai plus minus 20–22 ribu megawatt,” terangnya.

Soal energi baru terbarukan juga dibahas. Tahun ini target penggunaan energi baru terbarukan ditetapkan 11 persen. Untuk 2025, targetnya 23 persen. Presiden meminta menteri ESDM dan DEN membuat blueprint jangka panjang yang terkait dengan sumber energi tersebut.

Sementara itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan membantah bahwa target 35 ribu mw sempat direvisi menjadi 19,6 ribu mw. ”Itu kebutuhan minimal. Ini (target 35 ribu mw, Red) memang nggak direvisi. Jadi, ya jalan aja terus,” ujarnya.

Pemerintah menetapkan cadangan listrik sebesar 30 persen untuk mengantisipasi beban puncak. Penetapan itu tidak bisa lebih tinggi lagi karena berpotensi menaikkan tarif. Demikian juga bila produksi berlebih, tarif listrik bisa naik. ”Tapi, naiknya sedikit. Daripada nanti waktu butuh nggak ada,” kata tutur Jonan.

Dengan kondisi saat ini, bila kelebihan produksi 1.000 mw, PLN harus membayar Rp 1,8 triliun kepada produsen listrik. Beban itu akan dibagi rata kepada pelanggan dalam bentuk kenaikan tarif listrik sekitar 1,5 persen.

Yang terpenting saat ini adalah menjalankan proyek 35 ribu mw secara maksimal. Tidak perlu berpatok pada angka minimal atau prediksi realisasi. Kalaupun nanti tidak tercapai 100 persen, proyek itu masih tetap berjalan.

 

Anggota DEN Sonny Keraf menjelaskan, presiden sudah sepakat untuk menandatangani draf RUEN. Draf tersebut ada di meja presiden sejak 22 Juni 2016. Namun, ada beberapa hal yang perlu dikonfirmasi.

Selain target listrik 2019 sebesar 35 ribu mw, target 2025 juga dimantapkan. Yakni, listrik 114 gigawatt. Untuk produksi listrik di luar Jawa, energi baru terbarukan menjadi prioritas utama. Pihaknya akan mengatur mekanismenya agar biaya produksi listrik bisa ditekan.

”Kalaupun ada yang lebih tinggi dari listrik fosil, PLN akan tetap membelinya dengan di-back up subsidi energi baru terbarukan,” tuturnya. (byu/c11/ca/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%